Pembacaan Ruang Kontradiktif sebagai Tantangan Perancangan Kota: Studi Kasus Kawasan Siola, Surabaya

Authors

  • Natasya MIchelle Vania Petra Christian University, Surabaya, Indonesia
  • Altrerosje Asri Petra Christian University, Surabaya, Indonesia
  • Esti Asih Nurdiah Petra Christian University, Surabaya, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.9744/acesa.v7i2.14581

Keywords:

Ruang kontradiktif, Informalitas, Rhythmanalysis, Pendekatan desain, Kawasan cagar budaya

Abstract

Abstrak

Dalam perencanaan ruang publik di kawasan cagar budaya, arsitek dan perencana umumnya lebih fokus pada aktivitas formal dan mengabaikan aktivitas informal. Aktivitas informal di ruang publik muncul tanpa perencanaan namun sejatinya dipicu oleh aktivitas formal yang dirancang. Fenomena ini membentuk suatu ritme ruang urban yang kontradiktif sehingga menghasilkan makna ruang publik yang ambigu. Penelitian ini mengkaji fenomena kontradiksi ruang sosial publik yang timbul akibat informalitas sebagai dampak revitalisasi kawasan cagar budaya dengan mengambil Kawasan Siola di Surabaya sebagai studi kasus. Studi dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan teori rhythmanalysis dari Lefebvre dengan metode wawancara dan observasi lapangan. Pembacaan ruang dilakukan dengan mengkaji lima variabel: elemen fisik dan non-fisik, jenis kegiatan, pola penggunaan ruang, objek pengisi ruang, serta dimensi waktu. Temuan menunjukkan bahwa aktivitas informal memiliki peran penting dalam pembentukan ruang kota. Informalitas menjadi elemen kunci dalam menanggapi dinamika ruang kontradiktif dan menjadi tantangan dalam pendekatan desain urban di kawasan perkotaan, khususnya kawasan cagar budaya.

 

Abstract

In the process of planning of public spaces within heritage areas, architects and planners tend to focus on formal activities while neglecting informal ones. Informal activities in public spaces usually emerge without prior planning; however, it may be triggered by the designed formal activities. This phenomenon generates a contradictory urban spatial rhythm, resulting in an ambiguous meaning of public space. This study examines the phenomenon of social space contradiction arising from informality as an impact of heritage area revitalisation, taking the Siola area in Surabaya as a case study. The research employs a qualitative approach based on Lefebvre’s theory of rhythmanalysis, using interviews and field observations. Spatial interpretation is conducted through five variables: physical and non-physical elements, types of activities, spatial use patterns, spatial objects, and temporal dimensions. The findings reveal that informal activities play a significant role in shaping urban space. Informality becomes a key element in responding to the dynamics of contradictory space and presents a challenge for urban design approaches, particularly in heritage areas.

References

Agustin, F. D. (2023). Pertarungan simbolik di atas trotoar area pasar TP (Tugu Pahlawan) pagi Surabaya. Biokultur, 12(1), 1–10. https://doi.org/10.20473/bk.v12i1.40239

Alhadeff-Jones, M. (2019). Beyond space and time—Conceiving the rhythmic configurations of adult education through Lefebvre’s rhythmanalysis. Zeitschrift für Weiterbildungsforschung, 42(2), 165–181. https://doi.org/10.1007/s40955-019-0133-0.

Amalia, A. A., & Ikaputra, I. (2024). Tinjauan literatur: Informalitas permukiman informal perkotaan. Jurnal Linears, 7(1), 34–48. https://doi.org/10.26618/j-linears.v7i1.14344.

Amin, A., Akil, A., & Patandianan, M. V. (2014). Kajian nilai dan fungsi sosial ruang publik. Jurnal Wilayah & Kota Maritim (Journal of Regional and Maritime City Studies), 2(1). https://doi.org/10.20956/jwkm.v2i1.1250.

Antaranews.com. (2023, April 10). DPRD usulkan revitalisasi kawasan Segitiga Emas Surabaya. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/3480657/dprd-usulkan-revitalisasi-kawasan-segitiga-emas-surabaya.

Ardianta, D. A., & Yatmo, Y. A. (2021). Invisible playground: Konstruksi hubungan ruang-pergerakan-kejadian. MODUL, 21(1), 29–36. https://doi.org/10.14710/mdl.21.1.2021.29-36.

Carmona, M., De Magalhães, C., & Hammond, L. (Eds.). (2008). Public space: The management dimension. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203927229.

Damajani, R. R. D. (2007). Informalitas dalam formalitas pada ruang terbuka publik (Studi kasus Lapangan Gasibu, Bandung). Dimensi: Jurnal Teknik Arsitektur, 35(2), 164–171.

Faizah, S. N. (2024). Revitalisasi wisata Kota Lama Surabaya: Sejarah peradaban kota dan wujud kebhinekaan. TIMES Indonesia. https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/500216/revitalisasi-wisata-kota-lama-surabaya-sejarah-peradaban-kota-dan-wujud-kebhinekaan.

Firdaus, F., Purwantiasning, A. W., & Prayogi, L. (2018). Revitalisasi kawasan Kota Tua Jakarta dengan alternatif konsep TOD. Purwarupa: Jurnal Arsitektur, 2(1), 35–44. https://doi.org/10.24853/purwarupa.2.1.35-44.

Ching, F. D. K. (2007). Architecture: Form, space & order (3rd ed.). John Wiley & Sons.

Hayuningtyas, S. R., & Setyowati, S. (2022, August). Peran communal space dalam mendukung interaksi sosial pada Taman Cerdas Soekarno-Hatta Surakarta. Prosiding Seminar Ilmiah Arsitektur (SIAR), 395–403.

Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. (2013). Revitalising historic urban quarters. Taylor & Francis.

Juwita, R. D., & Dwisusanto, Y. B. (2022). Spatial integration of urban informality in Jakarta. Arteks: Jurnal Teknik Arsitektur, 7(3), 357–368. https://doi.org/10.30822/arteks.v7i3.1663.

Kamalipour, H., & Peimani, N. (2019). Negotiating space and visibility: Forms of informality in public space. Sustainability, 11(17), 4807. https://doi.org/10.3390/su11174807.

Khoirunnisa. (2022). Kya-kya reborn diresmikan, jadi alternatif wisata malam di Surabaya. Detik.com. https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6297098/kya-kya-reborn-diresmikan-jadi-alternatif-wisata-malam-di-surabaya

Lefebvre, H. (1991). The production of space. Blackwell.

Lefebvre, H. (2004). Rhythmanalysis: Space, time and everyday life. Continuum.

Lutzoni, L. (2016). In-formalised urban space design: Rethinking the relationship between formal and informal. City, Territory and Architecture, 3(1), 1–12. https://doi.org/10.1186/s40410-016-0046-9.

Margono, B. P. R., Sutanto, F. O., Putri, I. N., Julita, I., Wijaya, M. E., Mangitung, R. J., Damayanti, R., & Lemuel, T. (2020). Ruang–arsitektur: Sebuah studi filsafat kontemporer. Petra Press.

Mberu, Y. B., & Purbadi, Y. D. (2018). Makna ruang jalan di Kota Lama Kupang menurut pengguna ruang pedagang informal dan formal. Arteks: Jurnal Teknik Arsitektur, 3(1), 65–88. https://doi.org/10.30822/arteks.v3i1.56.

Media, K. C. (2020, August 18). Resmikan Plaza Atas Alun-Alun Surabaya, ini harapan dan mimpi Risma. Kompas.com. https://regional.kompas.com/read/2020/08/18/09372111/resmikan-plaza-atas-alun-alun-surabaya-ini-harapan-dan-mimpi-risma.

Oktaviani, Y., & Wibisono, B. H. (2024). Pemanfaatan ruang terbuka publik sebagai aktivitas pedagang kaki lima: Studi kasus di kawasan Aloon Aloon Kauman, Kota Semarang. Plano Madani: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 13(1), 14–24. https://doi.org/10.24252/jpm.v13i1.43009.

Perdana. (2015). Tri Rismaharini resmikan Museum Surabaya di Siola. Suara Surabaya. https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2015/Tri-Rismaharini-Resmikan-Museum-Surabaya-di-Siola

Sefkatli, P. (2024). Rhythm matters! How rhythm analysis bridges architecture and sociology. archiDOCT, 12(1). Retrieved from https://openresearch.amsterdam/en/page/111004/rhythm-matters-how-rhythm-analysis-bridges-architecture-and-sociology.

Putra, G. A. (2018). Identifikasi urban actors pada pembentukan ruang ketiga (thirdspace) di ruang publik urban. Pawon: Jurnal Arsitektur, 2(2), 87–96. https://doi.org/10.36040/pawon.v2i02.256.

Sari, R. P., & Dewi, D. I. K. (2022). Aktivitas pengguna pada ruang publik Kota Lama Semarang dilihat dari karakteristik dan hubungan sosial. Jurnal Arsitektur Zonasi, 5(1), 60–67. https://doi.org/10.17509/jaz.v5i1.37381

Shields, R. (2025). Ambiguity, household and the global intimate in the work of Henri Lefebvre. ACME: An International Journal for Critical Geographies, 24(2), 224–241.

Sholihah, R., Tantra, I. G. A. B. P., Sukmana, C. H., & Pratiwi, W. D. (2022). Tinjauan transformasi bangunan dengan teori Habraken: Adaptasi historical background di bangunan konservasi Gedung Siola, Surabaya. Jurnal Arsitektur Zonasi, 5(3), 543–556. https://doi.org/10.17509/jaz.v5i3.45721.

SUTD City Form Lab. (2014). Surabaya urban corridor development program: Final report. World Bank & Surabaya City Government.

Sudaryono, S. (2008). Perencanaan kota berbasis kontradiksi: Relevansi pemikiran Henri Lefebvre dalam produksi ruang perkotaan saat ini. Journal of Regional and City Planning, 19(1), 1–12.

Uzhma. (2016). Pemanfaatan ruang terbuka publik oleh pedagang kaki lima di kawasan Alun Kapuas, Kota Pontianak. Agora: Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti, 15(1). https://doi.org/10.25105/agora.v15i1.82.

Downloads

Published

2025-11-11