Reputasi Unilever di Masyarakat Indonesia Pasca Krisis Dukung Komunitas LGBTQ+

Suryani Shanti Dewi, Otto Bambang Wahyudi, Astri Yogatama

Abstract


Reputasi merupakan pandangan stakeholder terhadap bagaimana suatu perusahaan memenuhi ekspektasi mereka, pertimbangan untuk membeli produk perusahaan atau berinvestasi di perusahaan. Krisi yang terjadi pada sebuah organisasi dapat mempengaruhi reputasinya secara negatif atau positif. Pada 18 Juni 2020, Unilever mengeluarkan pernyataan mengenai dukungannya terhadap komunitas LGBTQ+ di Instagram yang menuai pro dan kontra. Penelitian ini difokuskan pada konsumer karena konsumer menghasilkan aliran pendapatan bagi perusahaan. Pengukuran reputasi ini menggunakan Reputation Quotient (RQ) oleh Charles Fombrun dengan indikator Emotinal Appeal, Products and Services, Vision and Leadership dan Social Responsibility. Peneliti menggunakan 4 indikator tersebut karena dalam penelitian ini memfokuskan pada stakeholder eksternal lebih spesifiknya adalah konsumen. Peneliti menggunakan metode survei yang dibagikan kepada 400 responden di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Unilever memiliki reputasi yang positif (3,69) pasca krisis dukungannya terhadap komunitas LGBTQ+. Indikator yang mendapatkan rata-rata tertinggi adalah Products and Services (3,95) jika dibandingkan dengan indikator lain sedangkan Emotional Appeal menjadi indikator dengan nilai rata-rata terendah (3,29).


Keywords


Reputasi, Reputasi Korporat, Krisis, Public Relations

Full Text:

PDF

References


Anggraeni, A. (2006). Pengaruh perubahan logo PT Indosat terhadap reputasi perusahaan pada pelanggan kartu Mentari Surabaya. Surabaya: Universitas Kristen Petra. retrieved from https://dewey.petra.ac.id/catalog/digital/detail?id=3962

Argentini, P. A. (2007). Corporate communication. New York: Mc Graw-Hill Internasional.

Bungin, B. (2005). Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Kencana Prenanda Media Group.

Dean, D. H. (2004). Consumer Reaction to Negative Publicity: Effects of Corporate Reputation, Response, and Responsibility for a Crisis Event. Journal of Business Communication, 41(2).

Doorley, J., & Garcia, H. F. (2013). Reputation Management. The Key to Successful Public Relations and Corporate Communication. In Corporate Communications: An International Journal (Vol. 18, Issue 1). New York: Routledge.

Fombrun, C. J., & Foss, C. B. (2001). Developing a Reputation Quotient. The Gauge, 14(3), 2–5.

Kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. (2015). Pandangan Masyarakat Terhadap Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) Di Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang, 2015. Laporan Kajian, 1–28. retrieved from https://www.kemenpppa.go.id/lib/uploads/list/0bad8-4-laporan-lgbt-masyarakat.pdf

Morissan. (2015). Metode Penelitian Survei. Jakarta: Prenadamedia Group.

Nova, F. (2009). Crisis public relations: bagaimana PR menangani krisis perusahaan. Jakarta:

Grasindo.

Pride month: What is it and why do people celebrate it? (2020). retrieved from https://www.bbc.co.uk/newsround/52872693

Riel, C. B. M. Van, & Fombrun, C. J. (2007). Essentials Of Corporate Communication. New York: Routledge.

Ruslan, R. (2003). Metode Penelitian PR dan Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Shandwick, W. (2012). the Company Behind the Brand : in Reputation We Trust. Quality Assurance, 21.

Walsh, G., Mitchell, V. W., Jackson, P. R., & Beatty, S. E. (2009). Examining the antecedents and consequences of corporate reputation: A customer perspective. British Journal of Management, 20(2), 187–203.

Yusdantara, I. kadek, & Rahanatha, G. B. (2015). Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Reputasi Perusahaan yang Dimediasi Oleh Kepuasaan Pelanggan (Studi Pada PT. Coca-Cola Amatil, Denpasar). E-Jurnal Manajemen Unud, 4, 813–831.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


TEMPLATE JURNAL E-KOMUNIKASI