Galeri Demokrasi di Surabaya

Authors

  • Christopher Julio

Abstract

Perancangan Galeri Demokrasi di Surabaya
merespons paradoks urban, di mana konektivitas
digital yang masif berbanding terbalik dengan
kedegradasian ruang publik fisik sebagai
panggung demokrasi. Selain itu, arsitektur
representasi politik konvensional yang cenderung
eksklusif dan monumental turut mengintimidasi
partisipasi warga. Penelitian ini bertujuan
mewujudkan third place publik yang netral, aman,
dan inklusif guna memitigasi polarisasi
sosiopolitik digital serta meningkatkan literasi
demokrasi masyarakat. Menggunakan metode
Research through Design (RtD) dengan
pendekatan arsitektur simbolik berbasis
concept-based framework, proyek ini menerapkan
konsep utama "Dialog Dualitas Spasial" pada
kawasan cagar budaya eksisting. Konsep tersebut
diejawantahkan ke dalam empat manifestasi
desain: dualitas program (entity-activity), sirkulasi
(linear-bebas), hubungan kontekstual (old-new),
dan gubahan bentuk (freedom within order). Hasil
perancangan mengintegrasikan fasilitas galeri
naratif dengan living activity lab (area literasi,
ruang dialektika, dan area ekonomi rakyat) serta
amphitheater terbuka. Desain ini
mentransformasikan nilai abstrak sosiopolitik ke
dalam relasi spasial yang adaptif. Proyek ini tidak
hanya menyediakan wadah dialektika fisik lintas
komunitas, tetapi juga menggeser paradigma
politik menjadi pengalaman spasial keseharian
(everydayness) sekaligus menawarkan model
civic architecture kontemporer yang memperkuat
identitas Surabaya sebagai learning city.

Published

2026-09-24